Berinteraksi dengan Al Qur’an

Hidup di dalam naugan Al Qur’an adalah kenikmatan – kenikmatan yang tidak mengetahuinya kecuali yang merasakannya (Sayyid Qutb)

Bagaimana mengatasi rasa malas, jenuh dan futur dalam berinteraksi dengan Al Qur’an (mis. Tilawah, menghafal, muroja’ah, tahsin dan tadabbur). Rasa malas, jenuh dan futur (lemah semangat) adalah sifat yang manusiawi dan wajar bagi setiap manusia, hampir setiap mukmin yang ingin memiliki interaksi yang baik dengan Al Qur’an sering merasakan problema ini, bahkan bisa jadi sepanjang hidupnya. Hanyalah malaikat yang tidak memiliki perasaan ini, adanya perasaan ini sejalan dengan tabiat kehidupan itu sendiri, yang dijadikan oleh Allah sebagai ujian bagi manusia. Perasaan di atas ibaratnya adlah suatu tantangan yang harus dilalui sebelum manusia sampai finish kehidupannya yakni mati. Dengan demikian akan terlihat siapa yang berprestasi dan tidak dalam menjalani kehidupan yang sangat sebentar ini.

Jadi yang tidak wajar adalah ketika kita menyerah dalam menghadapi kondisi seperti ini, tunduk apa yang diinginkan oleh hawa nafsu kita, atau kita menunggu biar perasaan itu hilang dengan sendirinnya, sementara kita sendiri tidak tahu berapa lama dia akan pergi dari diri kita, seminggu atau sebulan, sementara usia kita sudah semakin dekat dengan finish. Oleh karena itu semakin terlatih jiwa kita untuk mengatasi kondisi seperti ini, semakin singkat masa malas dan utur yang menimpa kita, silahkan anda melihat realita kehidupan teman–teman anda, diantara mereka ada yang terhinggapi rasa malas sebentar ada yang lama dan seterusnya, semua tergantung sejauh mana ia biasa mengatasi kondisi ini, Maka yang harus disadari dalam memeahami hakikat perasaan ini adalah hakikat kehidupan adalah perjuangan, siap menelan pil pahit kehidupan, adalah mustahil jika kita menginginkan perjalanan hidup ini semuanya manis, beruntunglah orang yang kehidupannya dihabiskan dalam rangka mengatasi pahitnya rasa malas dan futurnya. Begitu besarnya bahaya malas dan futur ini, sampai-sampai Rosul setiap berlindung kepada Allah dari perasaan ini : “Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari ketidak berdayaan dan rasa malas.”

Sekarang marilah kita fahami hakikat malas dan futur tanyakan pada diri anda, mengapa saya menjadi malas dan futur? Rasa malas adalah kondisi kejiwaan yang sedang bermasalah, apakah karena lelah atau jenuh, persis seperti fisik yang juga merasakan lelah, bosan, walaupun mengatasi kelelahan fisik jauh lebih mudah dari pada mengatasi kelelahan jiwa. Oleh karena itu fahamilah kondisi diri anda dengan baik, agar anda dapat mengatasi dengan baik. Berikut beberapa kiat mendeteksi latar belakang malas dan futur dalam diri anda :

Rasa malas atau futur yang disebabkan oleh kelemahan jiwa, sementara yang akan kita lakukan sangat membutuhkan kekuatan ruhiyah, ketidak seimbangan seperti ini kerap membuat jiwa kita tidak siap menghadapi Al Qur’an, jangankan untuk membacanya, sekedar membuka mushaf saja kita tidak siap. Jiwa yang lemah bisa disebabkan karena melemahnya iman, sedangkan iman yang lemah disebabkan sangat sedikitnya ketaatan kepada Allah, atau banyaknya maksiat yang dilakukan. Jika anda mengalami kondisi seoerti ini, maka solusinya sangatmudah segeralah lakukan tindakan meningkatkan keimanan dengan mempebanyak amal shalih dan istighfar yang banyak.

Allah swt berfirman yang artinya: “ ……Mintalah ampunan kepada Robb kalian dan kembalilah kepadaNya, niscaya Allah menurunkan hujan yang deras, dan menambahkan suatu kekuatan pada kekuatan yang ada pada kalian . . . (QS 11 : 52)

Rasa malas dan futur yang disebabkan oleh kondisi yang sangat monoton, kegiatan yang berlangsung berbulan – bulan secara monoton begitu lagi, begitu lagi, wajar apabila tiba-tiba jiwa kita kehilangan semangat untuk berinteraksi dengan Alqur’an solusinnya lebih mudah lagi, jika kita mau mengatasinnya. Ciptakan situasi yang baru. Malas seperti ini hanyalah karena kejenuhan dengan lingkungan yang biasa bersama kita, kondisi rumah, masjid, teman, dan lain sebagainya dimana kita biasa berada dapat memicu kejenuhan. Rosulullah saw bersabda “Rowwihul Quluub (hiburlah hati anda).

Menghibur hati dapat dilakukan dengan kegiatan-kegiatan yang mubah, seperti rihlah, menikmati hiburan-hiburan yang di ijinkan oleh islam dan lain sebagainya. Yang terpenting dalam hal ini jangan sampai berlebih-lebihan dan keterusan dan tengelam dalam hiburan,karena tidak mustahil saat anda melakukan kegiatan yang mubah atas nama Tarwihul Quluub, saat itu syetan berusaha menenggelamkan anda dalam mubahat, akhirnya anda tidak tertarik dengan Al Qur’an.

Rasa malas dan futur yang disebabkan oleh beban problem kehidupan yang sangat berat, rasa malas seperti ini terjadi karena terpecahnya konsentrasi anda dalam menjalani kegiatan kehidupan. Solusi kondisi seperti ini mirip nomer satu, amal shalih yang banyak, sesungguhnya akan mendatangkan pertolongan Allah untuk menyelesaikan semua problem anda. Untuk itu jangan sekali-kali percaya dengan suatu bisikan syetan yang mengisyaratkan, seakan -akan semakin jauh dari Al Qur’an semakin cepat menyelesaikan problem yang sedang anda alami, yakinlah demi Allah bahwa yang terjadi adalah sebaliknya, semakin dekat dengan Allah, semakin kuat ruhiyah anda utnuk menerima beban problem yang anda pikul,selain itu Allahpun akan segera menolong anda.

Yakinlah dengan janji Allah: “Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan menjadikan solusi dari semua problem hidupnya dan memberinya rizqi dari arah yang tidak diduga.” (QS 65 :2,3). Bahkan rosulpun menjanjikan dengan janji yang sama :“Barang siapa yang banyak beristigfar, Allah akan memberikan solusi bagi problemnya, dan menjadikan kesenangan dalam kesusahannya serta memberinya rizki dari arah yang tidak diduga”. (HR. Abu Dawud)

Dari tiga solusi diatas, ada beberapa hal yang harus kita ingat, dalam menjaga semangat berinteraksi dengan Al Qur’an :

Kejujuran niat kita kepada Allah, bahwa kita benar-benar ingin berinteraksi dengan Al Qur’an, sehingga akan selalu ada jalan dalam mengalami kesulitan jika ada kemauan.

Keseriusan kita dalam berdo’a kepada Allah, sikap ini merupakan lambang ketawadlu’an kita kepada Allah, bahwa sesungguhnya diri kita adalah makhluk yang tidak ada apa-apanya tanpa pertolongan Allah, sekaligus kita akan terjaga dari sikap ghurur(bangga diri)dalam beramal,khususnya berinteraksi dengan Al Qur’an.

Meningkatkan ukhuwwah dengan saudara-saudara kita yang memiliki cita-cita yang sama, ukhuwwah yang diwarnai rasa cinta, hati yang bersih, selalu mengutamakan kepentingan saudaranya dan saling mendo’akan diantara mereka, (QS 59 : 9-10) sehingga tercipta suasana amal jama’i (kebersamaan) yang hidup, karena pada hakikatnya semua yang kita rasakan dalam proses berinteraksi dengan Al Qur’an, sesungguhnya juga dirasakan oleh semua saudara kita.

Dikutip dari Buletin QUR’ANUNA